Postingan

PERIHAL MENGAGUMI

Tentang senyuman itu,  yang kian liar terangkai dalam ingatan. Tentang tatapan netra itu, yang sesekali saling beradu pandang. Ah, lagi-lagi, aku menjadi pengagum di balik tabir rahasiamu. Biarlah sajak sederhanaku ini, yang menyimpan segala tentangmu, tuan. #renjana@L_wnl (Ruteng, 25/02/25)

UNTUKMU

Gambar
Untukmu sang senjaku Merona jingga indah terpancar Binar matamu lumpuhkan pandangku Dentuman melodi cinta yang kau ciptakan membuat syair-syairku berdendang Iramanya selaras dengan rasaku Hingga aku tenggelam dalam pelukanmu @L_wnl

UNTUKMU AYAHANDA

Gambar
Tidurmu terlalu lelap Pejaman matamu tak kunjung terbuka Bibirmu katup tak bicara Seluruh ragamu kaku dan dingin Bukankah kau sedang tertidur? Bukankah kau hanya berbaring sebentar? Lalu mengapa kau tak bangun? Suaramu tak terdengar Apakah aku yang buta dan tuli, yang tak dapat melihat engkau bangun dari tidurmu dan mendengar suaramu? Rintik hujan perlahan jatuh Semakin deras mengalir pada kedua pipi Kutampar hingga memerah Berharap aku sedang menjelajah dalam bunga tidurku Tetapi kenyataan mengajakku untuk ikhlas atas kepulanganmu ke rumahNya Di sana tempat engkau memperoleh kehidupan abadi Engkaulah pemilik cinta paling tulus untukku, Ayah @L_wnl #14-09-2022

ENTAHLAH

Ketika hati tak mampu memyembunyikan luka Akankah senyum mampu membalutnya? Perlahan hujan menganak pinak Telapak tangan sigap menghapus jejak-jejaknya  Agar tak membekas dan tak ada yang risau  Biarlah hanya diriku yang merasakannya Hingga yang lain tak khawatir @L_wnl

PERIHAL KITA

Jika ibumu adalah orang pertama yang mengisi hatimu Maka izinkan aku menjadi orang kedua yang menempati ruang yang sama Aku tak perlu bersanding dengannya merebut tempat di hatimu Sebab aku tahu ibu adalah cinta pertama seorang anak laki-laki  Tetapi izinkan aku menemani hidupmu Merangkai hari-hari bersamamu Menciptakan dan mengukir segala kisah  Lalu melukisnya dalam memori  Yang kelak akan kita ceritakan kembali kepada buah cinta kita Sembari kau mengepang rambut seorang bocah kecil dan aku menyeduhkan kopi hangat untukmu Aku tak pandai  meracik segala hal sama seperti ibumu Dan tak tahu banyak perihal dirimu melebihinya Tetapi jika nanti aku bertemu dengannya Aku akan mengatakan padanya "Ma, terima kasih sudah melahirkan dan membesarkan anakmu. Engkau  merawat serta  mendidiknya penuh kasih dan cinta. Ketegaran dan ketulusanmu tergambar pada pancaran wajahnya. Ma, aku hanyalah wanita biasa bukan pula wanita  yang sempurna, izinkanlah aku tuk meneman...

Mengelola blog