Kau yang kunamai rindu Serta senja pengibaratanku Entah bagaimana lagi kusiratkan rasa Aksa dalam dasar hati Terukir jelas rupa bayanganmu Kota dingin adalah saksi bisu Desahan akan kepolosan rasa Netra selalu memandang wajahmu melalui selembar foto Menghilangkan dahaga rindu Ahhh...... Aku lagi-lagi berkhayal Ingin menjadi candradewimu Adalah tanya dalam benak Lastas, apakah aku yang terlalu larut pada ilusi ciptaan imajinasi? Apakah kau tahu sajak-sajak yang kutulis untukmu? Adakah kau luangkan waktu tuk membacanya? Mungkin kau sebenarnya tahu Namun, bukan balasan yang kupinta Cukup dengan senyum ketika kau mengejanya Untukmu Ada rindu dari aku"Si Gadis Penghuni Kota Dingin" Kau bayangan yang mengikat @Lastika Wanul
Rintikan hujan bulan juni masih terlihat Nampak pada ujung-ujung ranting tempat burung itu bertengger Serta di ujung dedaunan Laksana dentingan piano yang kunikmati sendiri pada sebuah ruang kosong Membiarkan jengkal demi jengkal desahan rasa hanyut Biar hanya aku yang merasakan Senja yang kudamba Menghilang diterkam sang petang Mungkin kilauan keemasannya merasuk pada hati yang lain Jingganya memancar pada kisah baru Sementara aku mengambang di antara kebisuan Kesunyian makin nampak dalam kerisauan Seakan ingin menyembelih rasa Kerinduan semakin mencekam Rindu yang masih menjadi tuan Dan aku bagai hamba yang terus memuja Ternyata diriku kembali tersesat di hujan bulan juni @Lastika Wanul
Aku ingin menjadi puisimu Menjadi aksara pembentuk kata penuh makna Rima pada larik Majas serta diksi Terikat di setiap bait dengan balutan cinta Bila bersekat jarak Ceritakan aku sebagai renjana Jika kau tertarik dengan rembulan Kisahkan aku sebagai candradewi Jika kau seorang penikmat kopi Maka aku sebagai aroma dalam kopi seduhanmu Partikel-partikel dari ramuan kopi yang kau racik Rajutlah hingga menyatu sempurna sebagai sebuah puisi Ukirlah aku bersama puisimu Sebagaimana kau mengukir aksara #Lastika Wanul
Komentar
Posting Komentar