Alangkah bijaknya semesta menghadirkan senja Jingganya membiaskan sebuah renjana "Kita adalah senja di ufuk barat" Malam akan tiba Kita masih dicumbui rindu Jika langit kota tempat kau berteduh terdapat candradewi Pandanglah! Sebab aku di sini juga sedang memandangnya Setidaknya Kita memandang rembulan yang sama Tersenyumlah...... Senyuman itu adalah milikku Bukan dia ataupun mereka! #lastika
Bolehkah kau pinjami aku pena dan kertasmu? Di sana pada putihnya lembaran, pada pekatnya hitam tinta, pada barisan-barisan aksara, akan kuukir segalanya tentang kita. Mungkin di setiap lembarannya nanti, akan terbentuk sebuah aliran sungai, sebab netra tak mampu membendung awan. Hujan pun turun dan terus mengalir, menganak pinak pada lembaran yang telah kupinjam darimu. Semoga pada tapak bekas hujan itu, kau masih mengerti dan memahami, jejak-jejak kisah yang kutinggalkan. Di lembaran berikutnya, mungkin pula kau melihat mentari yang tersenyum manis. Kau akan menemukan birunya cakrawala, hingga indahnya kilau senja yang pernah kita dambakan. Lalu kau pun sampai pada lembaran penutup, menyaksikan Candradewi dan Bintang saling menatap romantis. Keduanya pun tahu, meski berpijak pada langit yang sama, tetapi tak akan bisa menjadi rumah untuk pulang. Ah.... Rumit, kata Semesta! #renjana@L_wnl Ruteng, 08/02/2026
Ada sesuatu di sana Ada senyuman abadi yang terlukis Hati ini tertegun Ketika lirikan mata tertuju ke arahnya Batin bergejolak Mengisyaratkan agar segera mendekatinya Tapi saat hendak melangkah Aku sudah tak melihatnya Bayangannya sekalipun turut menghilang #lastika
Komentar
Posting Komentar